Jumat, 19 Desember 2008



Rahasia Esensi al-Faatihah

Al-Faatihah diturunkan dua kali yaitu sekali di Mekkah dan sekali di Madinah. Adapun pertama kali Al-Faatihah diturunkan di Makkah, yang disertai dengan gelombang rahmat yang dan kasih saying yang luas.Dalam sebuah hadist Qudsi diceritakan bahwa Malaikat Jibril As.membawa Surat al-Faatihah kepada Nabi Muhammad Saw, dan berkata: “Ya Muhammad! Allah Yang Maha Perkasa memberimu salam dan berfirman kepadamu,’Kabar baik bagi Surat al-Faatihah, jika seorangdari umatmu membaca Surat al-Faatihah, walaupun hanya 1 kali dalam hidupnya, itu sudah cukup bahkan berlebih baginya!”

Kemudian, untuk kedua kalinya Allah Swt.menurunkan surat al-Faatihah di Madinah. Sama seperti pertama kali, Allah Swt. menurunkan surat Al-Faatihah bersama rahmat yang luas. Hanya saja, yang kedua melebihi rahmat yang pertama. Dalam hadits Qudsi Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad Saw.:”Wahai RasulKu!Aku memberimu dari samudera rahmat surat al-Faatihah-Ku hanya satu gelombang, satu gelombang saja dari samudera rahmat dalam ke hadirat-Ku! Jika kamu tahu seluruh samudera rahmat yang dumiliki Surat al-Faatihah, kamu tidak akan memerintahkan umatmu untuk shalat, beribadah atau lainnya, karena rahmat dari Surat al-Faatihah saja sudah cukup! Tetapi tidak akan ada yang tahu seberapa luasnya samudera rahmat-Ku!”

Samedera dari gelombang rahmat yang sangat dasyat dalam al-Faatihah diriwayatkan dalam sebuah hadits Qudsi: Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Swt. Yang Maha Perkasa berfirman,’ Wahai Muhammad tercinta! Jika hamba-Ku tahu apa yang Aku sembunyikan dari mereka di dalam samudera rahmat, mereka akan mengatakan tidak perlu lagi beribadah. Jika seseorang bersujud sepanjang hidupnya, dia akan mengambil hanya setetes dari samudera itu. Tetapi, Allah mengirimkan samudera, bukan tetesan. Dia memberikan semua kemurahan-Nya, bukan, bukan karena banyak atau kurangnya ibadah seseorang’.

Allah juga selalu menjawab saat hambanya membaca Surat al-Faatihah. Dalam hadits Qudsi Rasulullah Saw. bersabda, ”Allah Swt berfirman: ’Bismillaahirrahmaanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Swt.Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’.

Seorang hamba berkata:”Alhamdulillahhirabbil’alamin(Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan semesta alam)”.

Allah Swt. menjawab: “hamba-Ku telah memuji-Ku”

Sang hamba berkata: “Arrahmanirrahim(Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang)”.

Allah Swt. menjawab: “Hamba-Ku telah Menyanjung-Ku”.

Sang hamba berkata: “Maaliqiyaumiddiin(Raja Yang Menguasai hari pembalasan)”.

Allah Swt. menjawab: “Hamba-Ku telah memuliaka-Ku”.

Sang hamba berkata: “Iyyakana’budu wa iyyakanasta’in(Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan).

Allah Swt. menjawab: “Ayat ini antara aku dan hamba-Ku setengah-setengah, dan hamba-Ku berhak atas apa yang dia minta”.

Sang hamba berkata : “Ihdinasshiraatalmustaqim,shiraatalladziina an amta’alaihim,ghairilmaghdubi’alihim, walladdhaallin (Tunjukilah aku jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat)”.

Allah Swt. menjawab: “Itu semua unyuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak atas apa yang dia minta”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar